Kebijakan Kemitraan Strategis Masa Lalu di Antara Jepang dan Irak

Kebijakan Kemitraan Strategis Masa Lalu di Antara Jepang dan Irak – Jepang dan Irak memang sudah terkenal dikarenakan kedua negara tersebut melakukan hubungan bilateral. Kemitraan yang strategis dari kedua negara ini, apakah perlu untuk dipertanyakan lagi? apakah semua kebijakan dari kedua negara ini akan berjalan secara siginifikan? Pada dasarnya yang utama, kemitraan strategis yang dibuat oleh Jepang dan Irak ini tidak mewakili sebuah terobosan yang signifikan dari adanya sebuah kebijakan yang dibuat Jepang yang telah diupayakan sejak adanya invasi dari AS dan koalisi di Irak di bulan Maret tahun 2003. Hal ini lebih mengarah pada sifat retoris daripada substantif. Namun, hal itu memang memiliki beberapa implikasi yang mampu menarik sekitarnya.

Pada awalnya, kunci utama untuk dapat paham mengenai kemitraan strategis bahasa ini pernah muncul di waktu kebijakan oleh militer Administrasi Bush di wilayah Irak. Bulan-bulan berikutnya ada pemilihan umum oleh AS di bulan November tahun 2006, menyebabkan perhatian dari global bergeser ke arah Kongres Demokrat baru dan Laporan bipartisan Baker-Hamilton. Di bulan berikutnya, mulai tampak sebuah kebijakan dari AS dimana pergerakannya menuju ke dalam penarikan bertahap untuk Irak. Di tahun 2007, Pemerintahan Bush ini mampu untuk meraih sebuah inisiatif, memecahkan segala oposisi pihak demokrat, dan mampu untuk memberikan kebijakan baru. Hal ini menyebabkan Jepang yang telah terkait dengan kebijakan luar negeri AS, menyambut mereka dengan penuh semangat akan adanya kebijakan militer AS di wilayah Irak.

Dalam hal ini, melihat adanya kemitraan strategis merupakan salah satu cara diplomatik Jepang untuk melengkapi A.S. di Irak.Implikasi utama yang lain dari adanya kemitraan strategis memberikan sebuah konsekuensi secara psikologis untuk pembuat kebijakan dari Jepang. Ketakutan akan kemarahan dari Aliansi AS-Jepang, mengingatkan pada prioritas untuk mendapat sebuah dukungan dari negara AS atas adanya tekanan untuk Jepang dari negara Korea Utara atas adanya perubahan sejak tahun 80-an, yang membuat sebuah keyakinan sebagian besar para pemimpin dari Jepang tidak memiliki sebuah pilihan tetapi untuk hal itu sepenuhnya untuk memberikan dukungan invasi untuk AS di Maret tahun 2003. Ketika adanya gerakan pemberontakan di negara Irak karena adanya perusahaan agen bola terpercaya yang meningkat drastis di 2003 dan 2004, pembuat kebijakan dari Jepang ini mampu menemukan jati diri Irak.

Bahkan adanya, organisasi GSDF di Samawa ini semua sibuk untuk bersembunyi dan menghindari korban yang bisa saja membuat malu pemerintah mengenai opini publik negara Jepang yang tidak menyetujui. Jepang sendiri tidak ada hubungan mengenai adanya sebuah tragedi di Irak, mengingat mereka bagian dari aliansi sekutu AS. Mengingat ini, kemitraan strategis ini memberikan para pembuat kebijakan Jepang yang merupakan pemegang kendali dan harus menerima konsekuensi. Kerja penyelamatan tragedi Irak ini hanya mempermalukan diri mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *