Kisah Akhir dari Jepang pada Saat Akan Menjalin Hubungan Bilateral dengan Irak

Tokyo, Jepang memilih untuk setuju atas penempatan pasukan yang berskala besar sejak tahun 1945 ketika Washington memiliki kecemasan untuk meminta bantuan atas pemikulan beban pasca-Saddam. Jepang memilih untuk ambil langkah terbesarnya di setengah abad ketika parlemen menyetujui adanya pengiriman beberapa pasukan untuk mendukung AS di wilayah Irak. Perdana menteri, Junichiro Koizumi, mematahkan sebuah oposisi dan mosi atas ketidak percayaan diri dan memastikan untuk adanya pemberlakuan undang-undang, yang mampu untuk membuka peluang bagi penyebaran militer terbesar di negara itu sejak perang dunia kedua. Sebenarnya, negara Jepang belum pernah sama sekali mengirimkan pasukannya ke luar negeri tanpa adanya mandat PBB. Mengenai hal itu, sebenarnya tentara Jepang tidak ada yang mampu melayangkan tembakan senjata di tahun 1945 dan tidak ada pasukan Jepang yang terbunuh karena mereka sendiri dibatasi oleh kegiatan yang berbahaya.

Namun, di bawah kebijakan undang-undang yang baru dibuat, tentara Jepang akan dikirimkan ke dalam konflik. Menjadi penjaga perdamaian PBB yang tidak memihak siapapun pada saat gencatan senjata, tentara Jepang pasti gabung dengan para tentara pendudukan pimpinan AS yang mencoba untuk menyelesaikan perkara perang gerilya. Mr. Koizumi memiliki pernyataan bahwa Jepang akan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan non-tempur di daerah aman. Walaupun begitu, Jepang cenderung terlihat berbeda saat bersama di Irak, di mana tidak ada daerah yang bebas dari risiko.

Kisah Akhir dari Jepang pada Saat Akan Menjalin Hubungan Bilateral dengan Irak

Perlu kamu ketahui, Jepang secara teoritis ini menolak adanya kekuatan untuk penyelesaian adanya perselisihan internasional.Namun, Mr Koizumi dan para pendahulunya telah mengikis pentingnya dokumen agar SDF bisa berfungsi menjadi sekutu yang lebih aktif ke AS. Mr. Koizumi ini menghadapi pemilu sebagai pemimpin partai Demokrat Liberal yang berkuasa. Sampai saat itu, ia tidak mungkin mengambil risiko pertumpahan darah.

Seperti yang telah ditujukkan pada posisi kemarin di majelis tinggi, para politisi yang lain bersiap untuk pemilihan umum di musim gugur dimana adanya konflik di wilayah Irak agar menjadi pusat perhatian. Perlu kamu ketahui, ada dua partai oposisi utama Jepang – Demokrat dan Liberal untuk bergabung sehingga mereka dapat menantang LDP Koizumi, yang telah memegang penuh kekuasaan untuk semuanya. Dua partai oposisi ini bisa melakukannya dengan serangkaian gerakan kecaman yang bisa saja dilancarkan kapanpun dan dimanapun.

Begitulah singkat informasi mengenai akhir cerita ketika Jepang akan memasuki Irak. Maksudnya, di sini adalah kisah-kisah akhir dari Jepang yang akan melakukan hubungan bilateral dengan negara Irak untuk memberikan keuntungan satu sama lain bagi negara mereka. Bahkan, pada tahun 2019 ini mereka melakukan peringatan yang ke 80 tahun sebagai bukti adanya hubungan bilateral. Dimana, mereka mengadakan acara yang bisa bermanfaat untuk mahasiswa Irak.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *